Yogurt

18 December 2011

Nur Hidayat

Yoghurt adalah produk susu fermentasi berbentuk semi solid yang dihasilkan melalui proses fermentasi susu dengan menggunakan bakteri asam laktat. Melalui perubahan kimiawi yang terjadi selama proses fermentasi dihasilkan suatu produk  yang mempunyai tekstur, flavor dan rasa yang khas selain itu juga mengandung nilai nutrisi yang lebih baik dibandingkan susu segar. Secara tradisional, pada pembuatan yoghurt digunakan kultur starter campuran Lactobacilus bulgaricus dan Streptococcus thermophilus dengan perbandingan 1:1.

1. Prinsip pembuatan

Teknologi dasar pembuatan yoghurt  meliputi persiapan bahan baku (susu) dan bahan-bahan tambahan lainnya tergantung dari jenis yoghurt,  pasteurisasi, homogenisasi campuran, penambahan kultur, pemeraman dan pengepakan.

 

1.1. Persiapan bahan baku dan bahan tambahan.

Bahan baku susu untuk yoghurt  dapat digunakan susu penuh, susu skim, susu rendah lemak atau dengan penambahan lemak. Bahan baku harus memenuhi persyaratan berikut : jumlah bakteri rendah, tidak mengandung antibiotik, tidak mengandung bahan-bahan sanitiser, bukan kolostrum, tidak terdapat penyimpangan bau dan tidak ada kontaminasi bakteriophage. Bahan-bahan lain yang biasa ditambahkan antara lain : bahan untuk meningkatkan padatan (susu skim, whey, laktosa),  bahan pemanis (glukosa, sukrosa atau aspartam),  stabiliser (gelatin, CMC, alginat, carageenan, whey protein yang dipekatkan, aroma, pewarna dan buah-buahan segar.

1.2. Kultur Starter

Kultur yoghurt mempunyai peranan penting dalam proses asidifikasi dan fermentasi susu. Kualitas hasil akhir yoghurt sangat dipengaruhi oleh komposisi dan preparasi kultur starter.  Komposisi starter harus terdiri bakteri termofilik dan mesofilik , yang umum digunakan adalah Lb. Bulgaricus dengan suhu optimum 42o-45°C dan  Streptococcus thermophilus dengan suhu optimum 38o- 42°C. Perbandingan jumlah starter biasanya 1:1 sampai 2:3. Selama pertumbuhan terjadi simbiosis antara kedua jenis bakteri. S. thermophilus akan berkembang lebih cepat mengawali pembentukan asam laktat melalui fermentasi laktosa, pertumbuhan ini terus berlangsung sampai mencapai pH 5,5. Selain itu juga akan dihasilkan senyawa-senyawa volatil  dan pelepasan oksigen, kondisi ini memberikan lingkungan yang sangat baik untuk pertumbuhan Lb. Bulgaricus.  Aktivitas enzim proteolitik dari Lb. Bulgaricus menyebabkan terurainya protein susu menghasilkan asam-asam amino dan peptide-peptida yang akan menstimulasi pertumbuhan Streptococcus. Lactobacillus juga akan menguraikan lemak menghasilkan asam-asam lemak yang memberikan flavor khas pada produk akhir yoghurt. Jika dikehendaki yoghurt dengan keasaman yang tidak terlalu rendah maka diperlukan komposisi starter yang berbeda, biasanya digunakan Lactobacillus acidophilus dan Bifidobacterium bifidum.

1.3. Bahan kering

Standarisasi bahan kering diperlukan untuk memperoleh struktur gel dan konsistensi yang dikehendaki. Penambahan susu skim 3-5% dapat meningkatkan nilai gizi yoghurt dan memperbaiki konsistensi. Penambahan bahan penstabil (misalnya gelatin 0,1-0,3% atau agar atau alginat) dapat meningkatkan konsistensi dan stabilitas produk;  Penambahan sukrosa 4-11% dan buah segar dapat merubah cita-rasa yoghurt sehingga lebih disukai terutama  bagi orang yang kurang menyukai rasa asam. Penambahan buah dapat dilakukan sebelum atau sesudah pasteurisasi.

1.4. Deaerasi

Udara yang terdapat di dalam campuran bahan-bahan yoghurt selama proses pencampuran  biasanya tidak dapat keluar dan dapat mempengaruhi kualitas hasil akhir yoghurt. Oleh karena itu harus dilakukan deaerasi dengan tekanan 0,7-0,8 bar pada suhu 70o-75°C. Deaerasi dapat meningkatkan viskositas dan stabilitas gel yoghurt, juga menghilangkan senyawa-senyawa yang dapat menyebabkan timbulnya aroma dan flavor yang tidak dikehendaki.

1.5. Homogenasi

Homogenisasi campuran bahan-bahan setelah pasteurisasi sangat diperlukan untuk mendapatkan campuran yang betul-betul homogen sehingga tidak dapat terjadi pemisahan cream atau wheying off selama inkubasi dan penyimpanan, juga untuk memperoleh konsistensi yang stabil. Homogenisasi juga dapat meningkatkan partikel-partikel kasein sehingga dapat memperbaiki konsistensi gel selama proses koagulasi.

1.6. Pemanasan

Pasteurisasi dilakukan pada suhu 85°c selama 30 menit atau  95°C selama 10 menit. Tujuan pasteurisasi adalah untuk membunuh mikroba kontaminan baik patogen maupun pembusuk yang terdapat dalam bahan baku sehingga dapat memberikan lingkungan yang steril dan kondusif untuk pertumbuhan kultur starter. Selain itu juga untuk denaturasi dan koagulasi protein whey sehingga dapat meningkatkan viskositas dan tekstur yoghurt.

1.7. Inokulasi dan Fermentasi

Setelah perlakuan pemanasan, susu didinginkan 1o-2°C di atas suhu inkubasi kemudian ditambahkan 1-3% kultur starter. Proses fermentasi merupakan kunci keberhasilan dari produksi yoghurt karena karakteristik produk akhir terbentuk selama proses fermentasi berlangsung.  Pada umumnya fermentasi dilakukan pada suhu 40o-45°C selama 2,5 – 3 jam. Namun suhu dan waktu fermentasi bisa berubah tergantung pada jenis bakteri pada kultur starter yang digunakan. Pada proses fermentasi akan terjadi hidrolisis enzimatis laktosa menjadi glukosa dan galaktosa. Selanjutnya glukosa akan diuraikan melalui beberapa tahap dekomposisi menghasilkan asam laktat. Pada tahap ini belum terjadi perubahan struktur fisik yang nyata pada susu, disebut prefermentasi.  Galaktosa tidak akan digunakan selama glukosa dan laktosa masih tersedia untuk fermentasi. Oleh karena itu, pada produk yoghurt masih terdapat residu galaktosa dan laktosa. Setelah terjadi penurunan pH maka gel mulai terbentuk secara bertahap sampai mencapai titik isoelektrik pada pH 4,65, proses  ini disebut fermentasi utama. Pembentukan gel diikuti dengan perubahan viskositas, pada tahap ini juga dihasilkan flavor. Fermentasi dapat dilakukan dalam kemasan atau pada tangki fermentasi tergantung jenis produk.

1.8. Pendinginan

Pendinginan harus segera dilakukan setelah fermentasi supaya tidak terjadi asidifikasi lanjut. Diusahakan penurunan suhu menjadi 15o-20°C dapat tercapai dalam waktu 1-1,5 jam, pada tahap ini masih terjadi pembentukan flavor. Selanjutnya yoghurt yang sudah jadi disimpan pada suhu 5o-6°C.

2. Yogurt dan fungsi kekebalan

Konsumsi harian yoghurt dapat meningkatkan fungsi kekebalan tubuh pada orang dengan sistem pertahanan lemah, laporan sebuah studi baru dari Spanyol. Orang dengan gangguan makan anoreksia nervosa  (AN) yang dikenal memiliki sistem kekebalan tubuh lemah, karena pola makan yang buruk dan kebiasaan makan yang salah. Menurut temuan baru yang diterbitkan dalam European Journal of Nutrition, konsumsi sehari-hari dari yoghurt yang mengandung Lactobacillus bulgaricus dan Streptococcus thermophilus selama program ulang-makan dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh penderita anoreksia.

Peneliti dari Departemen Metabolisme dan Nutrisi di Instituto del Frio (CSIC) melaporkan bahwa manfaat meningkatkan kekebalan pada produk susu tidak teramati ketika susu diberikan menggantikan yoghurt, pengamatan menunjuk pengaruh strain bakteri dalam yoghurt. “Temuan menunjukkan bahwa dimasukkannya yoghurt dalam terapi pasien AN mungkin memberi efek positif pada penanda imunologis yang berhubungan dengan status gizi pasien,” tulis para peneliti, yang dipimpin oleh Esther Nova. Para peneliti mencatat bahwa yogurt konvensional eksklusif yang difermentasi oleh L. bulgaricus dan S. thermophilus adalah yang paling banyak dikonsumsi di dunia. Namun, “relatif sedikit kajian yang melihat efek yoghurt konvensional ini, tanpa penambahan strain Lactobacillus atau Bifidobacteria, pada sistem kekebalan tubuh pada manusia”, tambah mereka. Studi baru melibatkan 30 anoreksia dan 33 remaja sehat. Para remaja anoreksia secara acak ditugaskan untuk mengkosumsi yogurt atau susu semi-skim sebagai bagian dari diet  mereka, sementara remaja sehat juga menerima yoghurt atau susu selama 10 minggu.

Para peneliti melihat pada rasio CD4 + limfosit ke CD8 + limfosit, ukuran diagnostik mapan pada fungsi sistem kekebalan. Limfosit adalah sel darah putih yang memainkan peran kunci dalam respon imun, sementara CD4 + dan CD8 + mengacu pada kehadiran reseptor tertentu pada permukaan sel. Rasio yang rendah dari CD4 + ke CD8 + merupakan indikasi dari sistem kekebalan yang tertekan.

Menurut temuan itu, penderita anoreksia yang menerima susu menunjukkan penurunan rsaio CD4 + / CD8 +, yang mengindikasikan melemahnya sistem kekebalan tubuh mereka setelah 10 minggu. Di sisi lain, mereka yang mengonsumsi yogurt tidak menunjukkan penurunan ini. Para peneliti juga melaporkan peningkatan yang signifikan dalam tingkat molekul yang disebut interferon-gamma atau IFN-gamma, penanda penting dari imunitas adaptif dan bawaan, pada kedua kelompok pengkonsumsi yoghurt (remaja anoreksia dan remaja sehat). Yogurt tampaknya menjadi alternatif yang baik untuk mencegah penurunan rasio CD4 + / CD8 +  pasien anoreksia nervosa, yang berarti yoghurt bisa menjadi pilihan makanan sehat untuk dimasukkan dalam terapi pasien ini, “.

Bakteri kokus gram positif (grup 14)

15 December 2011

Nur Hidayat

Aerobik: Micrococcus, Staphylococcus, Streptococcus, Leuconostoc

Anaerobik: Methanosarcina, Thiosarcina, Sarcina, Ruminococcus

Genus Micrococcus pertama kali dijelaskan oleh Cohn (1872). Deskripsi genus telah direvisi beberapa kali. Baird-Parker (1965) membagi bakteri  aerobik katalase-positif, kokus Gram-positif ini menjadi dua kelompok. Strain yang memfermentasi glukosa ditempatkan ke dalam kelompok 1 dan digambarkan sebagai anggota dari genus Staphylococcus, sedang yang memanfaatkan glukosa oksidatif, atau tidak sama sekali, ditempatkan dalam kelompok 2 (genus Micrococcus).

Rosypal dkk. (1966) mengusulkan klasifikasi ke dalam kelompok berdasarkan pada kandungan GC DNA genom. Strain dengan kandungan GC dalam kisaran 30,7-36,4% mol digolongkan dalam genus Staphylococcus, sedangkan strain dengan kandungan GC dalam kisaran 66,3-73,3% mol adalah genus Micrococcus. Genus Micrococcus mencakup spesies Micrococcus lylae, Micrococcus kristinae, Micrococcus nishinomiyaensis, Micrococcus sedentarius dan Micrococcus halobius. Kemudian, analisis urutan 16S rDNA dan studi kimia menyebabkan fragmentasi genus Micrococcus dan usulan menjadi empat genera baru – Kocuria, Nesterenkonia, Kytococcus dan Dermacococcus – sementara itu hanya dua spesies, Micrococcus luteus dan M. lylae, yang dianggap mewakili genus Micrococcus. Baru-baru ini, bakteriyang beradaptasi dengan kondisi dingin telah terbukti masuk genus Micrococcus, dan diberi nama Micrococcus antarcticus.

Staphylococcus merupakan Gram positif, non-motil coccus, sering ditemukan dalam kelompok seperti anggur (staphylo). Semua spesies mamalia yang diketahui, termasuk tikus laboratorium, rentan terhadap kolonisasi S. aureus. Karena kemampuannya untuk mengkolonisasi pada berbagai spesies, S. aureus dapat dengan mudah menular dari satu spesies ke yang lain, termasuk dari manusia ke hewan dan sebaliknya.

Streptococcus merupakan bakteri Gram positif, kokus, biasanya dalam bentuk rantaian atau berpasangan, fakultatif anaerob, katalase negative, Mereka dapat diklasifikasikan tergantung pada reaksi hemolisis pada Sheep blood agar.

Spesies – spesies Leuconostoc adalah katalase-negatif, Gram positif dengan morfologi coccoid. Pada tahun 1985, Buu-Hoi dkk. melaporkan kasus pertama infeksi Leuconostoc pada manusia. Sejak itu, Leuconostoc spp. Dianggap terlibat dalam berbagai infeksi, terutama pada pasien yang diobati dengan vankomisin. Namun, spesies ini belum pernah dianggap sebagai agen yang menyebabkan wabah sakit parah yang mengancam kehidupan sejumlah besar orang.

Methanosarcina berbentuk kecil hingga bulat besar terdiri dari banyak unit tidak teratur banyak. Tubuh bulat mungkin ada sebagai (i) bentuk coccoid kecil dengan diameter 1-3 mikrometer, dengan kecenderungan untuk ketidakteraturan, (ii) coccoid lebih besar dengan diameter 5 sampai 10 mikrometer, terjadi dalam kelompok 5 sampai 10 atau lebih, dan ( iii) besar bulat dengan diameter 20 sampai 100 mikrometer atau lebih. Hasil pewarnaan Gram adalah variabel. Nonmotile. Anaerob obligat. Metabolisme energi dengan pembentukan metana dari asetat, metanol, mono-, di-, dan trimethylamines, H2-C02, dan mungkin CO suhu pertumbuhan berkisar 25 – 45°C dan 35 – 55°C. Suhu pertumbuhan optimal 37°C untuk mesophiles dan 50°C untuk thermophiles moderat.

Sarcina lutea, merupakan bakteri nonmotile, gram positif, aerob (fakultatif anaerobik), Micrococcus penghasil pigmen, dapat ditemukan di udara, tanah, dan air di seluruh bumi. Bakteri ini sensitive terhadap penisilin. Koloni berwarna kuning.

Persiapan ISO 9001 dan 17025

16 March 2011

Akhir-akhir ini staf di LSIH sangatlah sibuk karena harus menyiapkan dua dokumen sekaligus, meskipun pada intinya kedua dokumen itu mirip namun dalam tatanan yg berbeda. tentu saja tetap membutuhkan keja ekstra.

setelah ada dokumen lalu dicoba dilakukan audit internal yang diketuai Pak Joni. dan nampak adanya beberapa kelemahan yang memang harus segera diperbaiki.

mamu tidak mau untuk sebuah kemajuan memang harus kerja berat

Persiapan ISO juga mengakibatkan biaya analisis naik karena adanya keharusan kalibrasi alat yang dulu jarang terpikirkan. bahkan banyak mahasiswa yang belum menyadari arti pentingnya kalibrasi alat dan pengukuran ketidakpastian.

ayo semangat

Function of hINSR mutant against tyrosine kinase precede abnormally on onset diabetes mellitus: in silico study

20 February 2011

ICBS 2011

Fatchiyah1,2)

1)Dept of Biology Faculty of Sience, Brawijaya University

2)Central Lab. Of Life Sciences, Brawijaya University

Email: fatchiya@gmail.com

 ABSTRACT

The pathogenesis of NIDDM has been studied in various ethnic groups. It appears that insulin resistance can precede the clinical onset of NIDDM. Mutations of the human insulin receptor gene have been identified in patients with severe insulin resistance, and studies of these naturally occurring mutants may provide important insights into the relationship between structure and function of the receptor. The aim of our research is to characterize genomic and proteomic insulin receptor (hINSR) of Indonesian diabetes mellitus patients. The bloods were collected from normal and DM patients from some public clinics and Saiful Anwar Hospital, Malang. DNA and RNA were isolated from blood, and then sequenced by ABIPrims Sequencer. To find out the genomic hINSR, DNA sequences were analyzed and characterized by in silico analysis, such as alignment by BioEdit & BLAST program from NCBI, and superimposed by Strap JAVA program, 2D- & 3D-structure analysis Swiss Model program. To examine the cytoplasm pathway tyrosine kinase, using docking hINSR-Tyrosine Kinase domain & IRS-1 (PTB domain) analyzed by Hex 5.1. We found specific protein of DM patient from 2D-protein profile and some type mutation of hINSR and can change the INSR 3D-protein structure and the 3D ligand structure of hINSR and insulin completely changed on DM patient. According to our result, we suggested that the hINSR protein mutation of DM patient precede abnormally hINSR function against tyrosine kinase and perhaps correlated with genetic syndrome of insulin resistance. The change function is presumed to inhibit the interaction between hINSR and IRS, makes transduction signals disturbance in the process of absorption of glucose leads to insulin resistance of diabetes mellitus.

 Key words: insulin receptor, diabetes mellitus, genetic syndrome, in silico, tyrosine kinase

Audit Lab

19 February 2011

pada hari Rabu 16 Februari 2011 kami semua staff di LSIH mendapat kehormatan untuk dikunjungi ibu Tini dari LIPI yang bersedia membantu melakukan pengecekan dokumen sebelum audit dilakukan. beliau benar teliti dan sangat cermat sehingga kamisangat terbantukan untuk memperbaiki segala kekurangan yang ada. acara dimualai dari jam 9 pagi hingga jam 18.00.
selain pengecekan dokumen juga dilakukan pengamatan aktivitas mulai dari terima sampel, kegiatan lab hingga laporan dikeluarkan.
selesai acara dilakukan diskusi lalu makan malam bersama.
makasih bu Tini.

Tindak Lanjut Kunjungan ke UNMC

7 February 2011

Pada tanggal 27 Januari 2011 staf LSIH: Bu fatchiyah, Pak Gatot, Pak Kuswanto dan Bu Wiwid menghasilkan beberapa pandangan menarik:
1. penataan laboratorium
2. penganaan jas laboratorium yang berbeda antara analis, visitor dan peneliti
3. tema seminar LSIh “pendekatan molekuler pencegahan dan terapi kanker” dengan pembicara dari UNMC Prof Shandy dan Dr. Susan.
4. tanda keamanan di masing2 lab
5. Ruang preparasi

Kunjungan dan penjajagan kerjasama dari Biofarma bandung

21 January 2011

Selasa 18 Januari 2011

Kamis, 20 januari 2011 Lsih-UB menerima kedatangan tim dari PT. BIO FARMA PERSERO yang terdiri dari dr. Elvyn Fajrul Jayasaputra selaku direktur pengembangan dan perencanaan, Iwan Setiawan, SE selaku sekertaris, staf ahli dr. Erman Boedisetianto beserta 3 orang staf R&D. Kunjungan yang berlangsung sekitar 4 jam ini diterima secara langsung oleh Direktur LSIH UB Dra. Fatchiyah, M.Kes., Ph.D dan beberapa staf. Tim BIO FARMA juga berkesempatan untuk memenuhi undangan Pembantu Rektor I Prof. Dr. Ir. Bambang Suharto, MS yang kemudian dilanjutkan dengan visitasi laboratorium biologi molekuler dan seluler serta laboratorium proksimat LSIH UB

staf LSIH dan Biofarma

foto bersama usai ramah tamah dengan staf Biofarma Bandung

PT. BIO FARMA PERSERO merupakan suatu badan usaha milik negara yang memproduksi vaksin dan antisera. Dalam visinya untuk menjadi produsen vaksin dan antisera yang berdaya saing global, BIO FARMA telah memproduksi, memasarkan dan mendistribusikan vaksin dan antisera yang berkualitas internasional untuk kebutuhan pemerintah, swasta nasional, dan internasional. Guna meningkatkan daya saing dipasar internasional Bio farma bekerja sama dengan beberap universitas di Indonesia

Pada kesempatan kali ini PT. BIO FARMA mengajak tim LSIH UB untuk bekerja sama dalam beberapa hal diantaranya training, pemanfaatan peralatan laboratorium, pengembangan vaksin dari hasil penelitian yang selanjutnya akan dikembangkan di PT. Bio farma. Dalam kesempatan ini disepakati untuk segera mengadakan tindak lanjut teruatam berkaitan dengan paten yang telah dimiliki oleh pihak UB untuk dijajagi ketingkat komersial. Ada 2 paten yang nantinya diharapkan bisa segera terealisasi dalam pertemuan selanjutnya yakni bidang molekuler dan seluler yaitu tentang Imunokontrasepsi dan Diabetes Melitus test kit. Dalam pertemuannya, tim Bio farma mengutarakan ketertarikannya terhadap kedua paten tersebut. Oleh karenanya tim LSIH UB diminta untuk mempersiapkan diri guna terealisasinya kerjasama ini. Diharapkan dalan bulan Februari telah ada pertemuan lanjut.

Kunjungan dari UIN dan UBAYA

21 January 2011

Senin 17 Januari 2011

Pada hari Senin, 17 Januari 2011, LSIH UB menerima kunjungan Tim Dosen dari Fakultas Teknobiologi UBAYA Surabaya dan Jurusan Kimia Fakultas Sain dan Teknologi UIN Malang. Kunjungan ini diterima langsung oleh Dra. Fatchiyah M. Kes., Ph.D selaku direktur LSIH UB. Kunjungan ini tidak terlepas dari adanya salah satu staff dosen UBAYA yang lolos seleksi mengikuti ‘Workshop on DNA Science’ Kentucky University USA dan LSIH UB tahun 2010 lalu.

kelompok kajian bioteknologi UBAYA tertarik untuk mengembangkan ‘teknik analisis biologi molekuler’ sebagai bagian dari pengembangan kurikulum bioteknologi di universitas tersebut

Dalam diskusi disepakati bahwa  mulai semester genap 2011 ini, pihak UBAYA meminta staff peneliti utama di LSIH UB untuk mengisi kuliah tamu tentang pengalaman penelitian yang berbasis bioteknologi  molekuler sebagai bagian dari program pembelajaran kurikulum yang telah mereka tetapkan

Sementara itu tim dari UIN yang beranggotakan kepala laboratorium kimia, biologi serta para laboran melakukan kunjungan dalam rangka studi banding manajemen laboratorium LSIH UB

Penerimaan kunjungan staf UIN dipimpin oleh drh. Masdiana C. Padaga, M.App.Sc  selaku manajer teknis yang menjelaskan mengenai profil LSIH UB sebagai laboratorium uji mencakup 3 divisi (teknologi pangan, molekuler dan seluler, Agrokompleks), penjelasan manajemen laboratorium LSIH, dan persiapan akreditasi ISO 17025 – 2005, Acara diakhiri dengan kunjungan ke setiap ruang loratorium dan sarana pembelajaran

Dalam kunjungan tersebut, tim UIN melakukan verifikasi terhadap sarana prasarana di dalam labarotorium sebagai penunjang kebutuhan manajemen

Kebersamaan di awal tahun

3 January 2011

Pada Tanggal 1Januari 2011 atau lebih kita kenali dengan 1111 merupakan jajaran angka 1  yang diartikan mari kita bersatu.

dalam rangka meningkatkan keakraban keluarga maka LSIH mengadakan gathering family di p-wec atau petungsewu wildlife education center.

seluruh staf dan keluarga mengadkan acara outbound dengan kegembiraan di hutan pendidikan agar kita lebih mencintai lingkungan.

acara dilakukan dengan santai denmgan beberapa permainan, flying fox, panjat dinding dsb

poermainan yang membutuhkan kebersamaan juga dilakukan. seluruh keluarga nampak ceria hingga akhir acara.

setelah makan siang dilakukan ramah tamah dan doorprize hingga pukul 15.00 untuk kembali ke rumah masing2

selamat berkarya kembali di awal tahun

semoga kita makin baik dalam berkarya

salam

Selamat datang Bu Hajjah

31 December 2010

Setelah sebulan lebih LSIH ditinggal oleh ibu Direktur menunaikan ibadaha haji, kini LSIH kembali semarak dengan kedatangan beliau kembali.
selamat datang di LSIH lagi semoga menjadi haji mabrur amiin

« Previous PageNext Page »