Home » Jurnal » Produksi Minyak dari Limbah

Produksi Minyak dari Limbah

21 December 2011

Limbah minyak biasanya dibuang dengan salah satu dari dua cara yaitu langsung ke sistem pembuangan limbah melalui wastafel atau dibuang bersama-sama dengan sampah. Kedua cara ini pada dasarnya tidak ramah lingkungan karena yang pertama dapat menyumbat saluran pembuangan sedang yang kedua hanya memindahkan ke lingkungan yang lebih luas sehingga menambah beban tempat pembuangan sampah.

Indonesia merupakan salah satu Negara yang banyak mengkonsumsi minyak goring, daging, ikan, sayur dan ayam untuk makanan cepat saji ataupun makanan sehari-hari sehingga menghasilkan limbah minyak yang sangat banyak. Zat hidrofobik seperti limbah sabun, minyak sayur, minyak mentah dan berbagai esterini sebenarnya meruoakab substrat yang baik untuk produksi minyak microbial.

Konversi limbah minyak menjadi produk bernilai ekonomis telah mendorong ide penggunaan khamir penghasil minyak untuk prouksi asam lemak yang bermanfaay. Tiap khamir memiliki kemampuan yang berbeda-beda.

Cryptococcus curvatus menghasilkan senyawa yang setara lemak kakao, Mortierella alpina dikenal menghasilkan asam arakhidonat dan Mucor circinelloides kaya g-linolenat. Rhossporidium toruloides dikenal sebagai penghasil asam oleat,asam palmitat, asam stearat dan asam lonoleat sedangkan Rhodotorula glutinis menghasilkan triasilgliserol. Khamir berlemak mudah ditumbuhkan pada berbagai limbah pertanian dan limbah industry berlemak. Khamir ini juga dapat ditumbuhkan pada air limbah monosodium glutaman atau gliserol dari limbah biodiesel.

Asam lemak mikroba, khususnya Poli asam lemak tak jenuh (PUFA), dianggap sangat penting dari sudut pandang klinis, mereka membentuk mayoritas asam lemak di jaringan otak, mereka tersedia dalam susu ibu tetapi tidak ada dalam susu sapi dan susu formula yang digunakan sebagai pengganti susu ibu. Pengembangan fungsi saraf dan retina tergantung pada PUFA. Meskipun minyak ikan banyak mengandung PUFA, namun ada kekhawatiran tentang penggunaan minyak ikan sebagai suplemen, terutama untuk bayi, karena terkait masalah polusi lingkungan. Strain khamir tertentu dikenal mampu menghasilkan minyak PUFA, yang dianggap sebagai minyak yang paling sesuai dari sudut pandang ekonomi dan kesehatan.

Media kultur yang digunakan untuk produksi lipid adalah medium basal yang terdiri dari yeast extract, 1.0 g; KH2PO4, 2.4 g; Na2HPO4.12H20, 2.3 g; MgSO4.7H20, 1.0 g; (NH4)2SO4, 4.0 g; larutan trace minerals, 10.0 ml dan larutan FeSO4, 1.0 ml. larutan trace mineral dengan komposisi (grams per liter): CaC12.2H20, 3.6 g; ZnSO4.7H20, 0.75 g; CuSO4.5H20, 0.13 g; CoC12.6H20, 0.13 g; MnSO4.H20, 0.50 g; (NH4)2MO2O7, 0.12 g. larutan FeSO4 mengandung 24g FeSO4.7H2O per liter. Glukosa 30 g/l. Erlenmeyer 500 ml diisi dengan 200 ml medium basal, diinokulasi dengan 107 sel kahmir dan diinkubasi selama 6 hari pada shaker waterbath dengan laju agitasi 125 rpm dan inkubasi 28+ 1 0C.

Sumber:

Heba El Bialy • Ola M. Gomaa • Khaled Shaaban Azab. 2011. Conversion of oil waste to valuable fatty acids using Oleaginous yeast. World J Microbiol Biotechnol 27:2791–2798

Jurnal , ,

2 Comments to “Produksi Minyak dari Limbah”

  1. saya lumayan bingung dengan maksud minyak dari limbah itu pak,mohon penjelasannya. Saya cukup tertarik dengan hal ini.

    kunjungi juga :
    http://www.blog.ub.ac.id
    http://www.habybpalyoga.blogspot.com

  2. minyak dari limbah adalah memanfaatkan limbah untuk produksi minyak mikrobial yaitu lipid pada mikroorganisme. banyak mikroorganisme yang dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan minyak yang dapat diolah menjadi biodisel dengan menggunakan limbah sebagai substrat bagi mikrobia tersebut

Leave a Reply

(required)

(required)


CAPTCHA Image
*