Home » Jurnal » Xylitol

Xylitol

25 December 2011

Xylitol tidak hanya pemanis bebas gula, tetapi jua memiliki sifat-sifat yang unik sehingga digunakan secara luas dalam bidang farmasi, perawatan kesehatan dan industry pangan. Xylitol digunakan sebagai alternative pemanis pengganti sukrosa bagi penderita diabetes karena nilai kalorinya yang rendah dan mungkinsebagai anti karsinogenik karena mampu menghambat pertumbuhan bakteridi mulut. Xylitol juga digunakan sebagai pemanis pada produk – produk pangan seperti permen,permen karet, soft drink dan produk – produk kesehatan pribadi seperti pencuci mulut dan pasta gigi. Xylitol adalah produk dengan nlai tambah tinggi dan memiliki potensi pasar yang bagus, oleh sebab itu optimasi produksi dan teknologi pemurniannya perlu terus dikaji.

Xylitol dapat diperoleh dengan berbagai teknologi termasuk ekstraksi dari beberapa buah dan sayur seperti strawberry, raspberry, plump dan pear, tetapi jumlahnya yang sangat kecil dalam buah dan sayur menjadikan ekstraksinya sulit dan tidak ekonomis. Secara tradisional, produksi xylitol skala besar komersial adalah secara kimia melalui reduksi D-xylosa dengan adanya katalis nikel pada suhu tinggi. Namun demikian, suhu tinggi (80 – 1400C) dan membutuhkan tekanan (diatas 50 atm) menjadikan prosedur pemurniannya menjadi mahal. Oleh karena itu, produksi xylitol secara fermentasi diharapkan mampu mengurangi biaya produksi.

Metode bioteknologi untuk memperoleh xylitol didasarkan pada fermentasi hidrolisat tongkol jagung. Dibandingkan dengan proses kimia tradisional, biokonversi dari hidrolisat tongkol jagung menjadi xylitol lebih unggul karena prosedurnya lebih sederhana, konsumsi energy dan polusinya rendah. Bioproduksi xylitol daritongkol jagung meliputi tahap – tahap: hidrolisis hemiselulosa, biokonversi xylosa oleh khamir, pemurnian dan kristalisasi xylitol dari hidrolisat yang difermentasi.

Hidrolisis tongkol jagung (perbandingan tongkol jagung dan air adalah 1 : 10) ditambahkan asam sulfat (nisbah asam sulfat dan air adalah 1,5 : 100) dan dipanaskan selama 2 jam pada suhu 1000C. Hidrolisat yang diperoleh (bagian cair) dinetralkan dengan kalsium hidroksida. Setelah pemisahan residu tongkol jagung dan endapan kalsiumsulfat melalui filtrasi, hidrolisat kemudian dipekatkan dengan evaporasi vakum. Akhirnya hidrolisat diperlakukan dengan karbon aktif untuk memisahkan bagian substansi yang berpotensi menghambat biokonversi xylitol menggunakan Candida tropicalis. Setelah fermentasi, larutan yang diperoleh dipekatkan secara vakum.

Perlakuan karbon aktif adalah metode yang efisien dan ekonomis untuk mereduksi cemaran – cemaran pada larutan fermentasi termasuk warna, senyawa – senyawa fenol, asam asetat, senyawa – senyawa aromatic, furfural dan hidroksi metal furfural. Perlakuan resin ion-exchange digunakan untuk mereduksi penghambat – penghambat pada larutan fermentasi seperti garam – garam anorganik, asam asetat, furfural dan hidroksimetilfurfural. Resin anion-exchange digunakan untuk memisahkan senyawa – senyawa warna dari media fermentasi sedangkan resin cation-exchange digunakan untuk desalinasi dan memisahkan seyawa – senyawa organic bermuatan positif.

Setelah proses fermentasi akan dihasilkan 0,8 g xylitol per gram xylosa yang dikonsumsi. Larutan hasil fermentasi berwarna kuning gelap. Selain mengandung xylitol juga terkandung produk samping seperti xylosa, arabinosa, warna dan garam – garam anorganik yang akan mempengaruhi proses kristalisasi.

Jurnal

No Comments to “Xylitol”

Leave a Reply

(required)

(required)


CAPTCHA Image
*